Ketika Waktu Tak Lagi Dioptimalkan
“Salah satu penyebab rendahnya minat membaca adalah persoalan waktu luang. Mungkin ini kedengarannya aneh, tapi itulah kenyataan yang akan mudah kita temukan. Kesibukan hidup orang sekang ini semakin tinggi. Jika anda menyimak orang-orang jalan raya di pagi hari, betapa padatnya pengendara sepedemotor dan mobil bertebaran memenuhi jalan raya. Semua berlom baingin mendahului yang lain. Masing-masing ingin menjadi yang terdepan” (Ngainun Naim:2013)
Waktu,
apa yang salah dengan waktu? Kenapa orang selalu menyalahkan waktu? Padahal
waktu tak pernah salah, ia hanya berjalan sesuai kodratnya. Yang salah adalah
kita yang tidak memanfaatkannya dengan maksimal.
George
Downing pernah mengatakan “Istilah tidak
ada waktu, jarang sekali merupakan alasan yang jujur, karena pada dasarnya kita
memiliki waktu 24 jam yang sama setiap harinya. Yang perlu ditingkatkan ialah
membagi waktu dengan lebih cermat”.
Saya,
anda, dan kita semua memiliki waktu yang
sama setiap harinya. Lantas apa yang membedakan kita? Kecermatan. Orang
cerdas adalah mereka yang mampu memanfaatkan wktu sebaik-baiknya. Hampir tidak
ada satu helaan nafas yang berlalu dengan sis-sia, sebab mereka yakin meski
hanya satu desahan nafas sangat rugi bila tak diisi berbagai hal produktif.
Mari
sejenak kita tarik nafas dalam-dalam dan renungkan bagaimana orang-orang yang
namanya tercatat dalam tinta sejarah adalah mereka yang rajin membaca. Dalam
dunia Islam kita mengenal sosok Ali Bin Abi Thalib, Mu’adz, Imam Syafi’I, Imam
Ghazali yang tak pernah jauh dari membaca dan menulis. Termasuk guru kita
Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Madjid saking nikmatnya membaca tak sadar sorbannya dilahap api.
Pasti
anda juga tahu ibu muda bernama Joanne Kathleen Rowling, wanita misikin asal
London ini terpaksa pindah ke Edinburgh untuk mencari nafkah. Ia mengontrak
rumah kumuh agar bisa bertahan hidup. Tapi di antara penderitaan itu dia
memiliki imajinasi tentang seorang anak yang bisa terbang kelling dunia,
bercanda dengan teman sebaya, menyulap apa saja yang diinginkan menjadi
permainan menyenangkan. Dia sering menceritakan kisah itu pada adiknya, kata
adiknya cerita ini sangat menarik kenapa tidak dibuat novel saja?
Respon
adiknya membuat si ibu muda terinspirasi menulis, ia memulainya di
tengah-tengah kesibukan mencari nafkah di kota yang keras akan persaingan
hidup. Singkat cerita terbitlah sebuah novel berjudul Harry Potter and philosoher’s stone. Ibu muda itu adalah JK Rowling
penulis novel fenomenal yang di santap jutaan orang di penjuru dunia. Mana
mungin ia bisa berimajinasi dan menulis sekeren itu jika tak pernah membaca.
Rowling saja yang harus kerja banting tulang sana-sini bahkan keluar dari kota
kelahirannya mencari nafkah masih sempat membaca dan menulis. Padahal kita tahu
menulis novel tidaklah membutuhkan waktu yang singkat, tapi 16 tahun lalu wanita
miskin dari London telah membuktikannya. Kesibukan bukan dalih berhenti membaca.
Kualitas
kita lima sampai sepuluh tahun mendatang ditentukan oleh apa yang kita baca
hari ini. Membaca bukan sekedar hoby semata tapi membaca adalah orator yang
mampu merubah mindset dan jalan hidup kita.
![]() |
| Download from facebook |
Masyarakat
Jepang ternyata sangat terkenal dengan kedisiplinannya memanfaatkan waktu. Bagi
orang Jepang waktu terlalu berharga untuk di buang tanpa ada hasil. Saya
membayangkan bagaimana bingungnya orang Jepang umpama mereka tau bagaimana
masyarakat kita sehari-hari. Pasti mereka bisa pingsan keheranan. Bagi mereka
waktu itu seperti emas. Maaf bukannya sok tahu, coba lihat bagaiamana kebiasaan
mereka! Fenomena yang tak akan dijumpai di Indonesia. Antrean, bus, taman kota
maupun tempat umum lain ramai dengan orang membaca. Tidak ada waktu luang yang
terlewatkan tanpa membaca, di tengah hingar-bingar dan sibuknya aktifitas,
mereka masih saja sempatkan diri membaca.
Sehingga
tak hera negara yang memiliki luas wilayah tak lebih dari pulau Sumatra, yang
tak memiliki kekayaa alam berarti, bahkan juga telah diluluhlantakan bom atom
di dua kota Hiroshima dan Nagasaki, hingga saat ini masih tersimpan zat radio
aktifnya namun mampu menjadi salah satu negara terkaya di Asia.
Jadi
tidak ada alasan bagi kita semua menihilkan hari tanpa membaca. Mereka bisa
kenapa kita tidak, kalau bisa dikerjakan sekarang kenapa harus besok.
“Apa
yang kau lihat adalah apa yang engkau bisa menggapainya” Ahmad Rifai Rifan
Daftar
Pustaka
Ngainun Naim, The power of Reading, Yogyakarta: Aura Pustaka, 2013
Ahmad Rifai Rifan, Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati,
Jakarta: PT. Elex Media Komputindo Kompas – Gramedia, 2016
Ahmad Rifai Rifan, Man Shabara Zhafira, Jakarta: PT. Elex
Media Komputindo Kompas – Gramedia, 2016
Dr. Saifur Rohman, Follow Your Fashion: Be A Writer, Jakarta:
PT. Gramedia, 2014


