Mendamba Pertemuan
Jatah hidup manusia
telah ditentukan sejak zaman azali, sebelum alam semesta diciptakan. Hanya
Allah yang tahu kapan ajal itu akan datang. Jatah hidup manusia ibarat sebuah
pelita yang diisi minyak, ada yang terisi penuh, ada yang terisi setengah, ada
yang hanya terisi sangat sedikit bahkan kosong. Bila minyak itu habis maka
apinya akan padam, begitulah gambaran jatah hidup manusia. Ada yang meninggal
pada masa tua, masa remaja, saat masih dalam buaian, bahkan ada yang meninggal
ketika masih di dalam kandungan tergantung jatah hidup yang diberikan.
Sebagian manusia seperti
para nabi, ulama, dan orang-orang saleh dapat merasakan tanda-tanda kematian bila
ajalnya akan datang dalam waktu dekat. Seperti seorang kakek yang pada pagi
harinya keluar memperbaiki jembatan yang berada di depan rumahnya seraya
mengatakan pada keluarganya nanti banyak tamu yang akan datang ke rumah, hanya
dia sendiri yang paham dengan kata-kata itu. Sore harinya kakek itu meninggal
dunia dan benar banyak tamu yang datang ke rumahnya untuk melayat.
Kematian bukanlah
momok yang menakutkan bagi manusia, sebab kematian adalah ajang perjumpaan
manusia dengan Tuhan yang menciptakannya. Kematian seharusnya menjadi momen
yang paling dinanti-nantikan, layaknya seseorang yang sangat rindu bertemu
kekasihnya tentu ia sangat mendambakan pertemuan itu. Rasulullah saw. pernah
didatangi Malaikat untuk ditawarkan kehidupan abadi sepanjang masa agar tetap
membimbing umatnya atau kematian yang akan mempertemukannya dengan Allah swt.
ternyata beliau lebih memilih bertemu dengan sang maha pencipta karena
pertemuan dengan Allah adalah tujuan inti dari kehidupan ini.
Diriwayatkan dari
Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang senang bertemu Allah
maka Allah juga senang bertemu dengannya. Dan siapa yang benci bertemu Allah
maka Allah juga akan benci bertemu dengannya”. (HR. Ahmad)
Tapi yang kita jumpai
hari ini kematian menjadi momok yang sangat menakutkan bagi manusia, karena
dari awal kita sudah ditakut-takuti dengan kematian. Kematian digambarkan sebagai
akhir dari kehidupan, kematian dikatakan mengakibatkan rasa yang sangat sakit
bagi tubuh, belum lagi kematian dikaitkan dengan siksa-siksa kubur yang akan
dihadapi manusia.
Kematian tidaklah
menakutkan, kematian adalah momen saat ruh manusia berjumpa dengan sang
pencipta. Setiap hari kita sudah terlatih menghadapi kematian yaitu dengan
tidur. Tidur tidak jauh berbeda dengan kematian, tidur adalah saat ruh keluar
dari dalam tubuh untuk kembali kepada Tuhan, begitu pula saat kematian ruh akan
kembali kepada Tuhan sedangkan tubuh ditinggalkan terkubur di dalam tanah.
Allah telah menciptakan suatu alam di mana semua ruh berkumpul. Sehingga tak
jarang orang yang tidur bermimpi bertemu keluarganya yang sudah lebih dulu meninggal
dunia, karena ruh mereka bertemu di satu tempat.
Saat tidur ruh akan
keluar dari tubuh, ibarat orang yang menerbangkan layangan ke angkasa dengan
tali sebagai penghubung antara layangan dan pemiliknya. Selama tali itu masih ada
layangan akan kembali pada pemiliknya. Begitulah ruh yang keluar dari jasad
tatkala tidur, ia akan kembali ke mana pangkal tali itu berada, bila tali itu
putus maka ruh tidak tahu ke mana akan kembali di saat itulah tubuh manusia menemui
kematian karena terpisah dengan ruh yang menggerakkannya. Tali yang
menghubungkan antara ruh dengan tubuh itu di sebut dengan silver cord atau yang
disebut dengan istilah anfus oleh Sunan Kalijaga.
Allah berfirman dalam QS. Az-Zumar (39): 42, “.Allah memegang nyawa (seseorang) saat kematiannya dan (memegang) nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur, maka dia tahan nyawa (orang) yang telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir”.
Sumber gambar: popmama.com
Lalu apa yang kita
takutkan dari kematian, siksa kubur, atau siksa neraka? Benarkah adanya siksa
kubur, dalam Al-Qur’an dan hadis tidak ada yang menjelaskan secara gamblang
tentang siksa kubur. Kubur merupakan masa penantian sebelum manusia
dibangkitkan kembali di hari akhirat. Orang tidur hampir sama dengan orang yang
mati, kita tidak merasakan apa pun tatkala tidur sekalipun kita digigit semut
dan nyamuk selama ruh belum kembali ke tubuh. Dalam kubur pun demikian, ruh
akan kembali kepada Allah, sedangkan yang terbaring di tanah hanyalah tubuh yang membusuk, hancur, lalu dimakan ulat dan
binatang yang ada di tanah, sebab tubuh tak lagi bernafas dan darah tak lagi
mengalir. Apakah siksa kubur seperti jasad yang ditolak tanah, tubuh yang
dihimpit tanah sebagaimana yang ditayangkan dalam film-film religi benar
adanya, wallahu a’lam.