Kamis, 03 September 2020

Ketika Waktu Tak Lagi Dioptimalkan

 

Ketika Waktu Tak Lagi Dioptimalkan

“Salah satu penyebab rendahnya minat membaca adalah persoalan waktu luang. Mungkin ini kedengarannya aneh, tapi itulah kenyataan yang akan mudah kita temukan. Kesibukan hidup orang sekang ini semakin tinggi. Jika anda menyimak orang-orang jalan raya di pagi hari, betapa padatnya pengendara sepedemotor dan mobil bertebaran memenuhi jalan raya. Semua berlom baingin mendahului yang lain. Masing-masing ingin menjadi yang terdepan” (Ngainun Naim:2013)

Waktu, apa yang salah dengan waktu? Kenapa orang selalu menyalahkan waktu? Padahal waktu tak pernah salah, ia hanya berjalan sesuai kodratnya. Yang salah adalah kita yang tidak memanfaatkannya dengan maksimal.

George Downing pernah mengatakan “Istilah tidak ada waktu, jarang sekali merupakan alasan yang jujur, karena pada dasarnya kita memiliki waktu 24 jam yang sama setiap harinya. Yang perlu ditingkatkan ialah membagi waktu dengan lebih cermat”.

Saya, anda, dan kita semua memiliki waktu yang  sama setiap harinya. Lantas apa yang membedakan kita? Kecermatan. Orang cerdas adalah mereka yang mampu memanfaatkan wktu sebaik-baiknya. Hampir tidak ada satu helaan nafas yang berlalu dengan sis-sia, sebab mereka yakin meski hanya satu desahan nafas sangat rugi bila tak diisi berbagai hal produktif.

Mari sejenak kita tarik nafas dalam-dalam dan renungkan bagaimana orang-orang yang namanya tercatat dalam tinta sejarah adalah mereka yang rajin membaca. Dalam dunia Islam kita mengenal sosok Ali Bin Abi Thalib, Mu’adz, Imam Syafi’I, Imam Ghazali yang tak pernah jauh dari membaca dan menulis. Termasuk guru kita Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Madjid saking nikmatnya membaca  tak sadar sorbannya dilahap api.

Pasti anda juga tahu ibu muda bernama Joanne Kathleen Rowling, wanita misikin asal London ini terpaksa pindah ke Edinburgh untuk mencari nafkah. Ia mengontrak rumah kumuh agar bisa bertahan hidup. Tapi di antara penderitaan itu dia memiliki imajinasi tentang seorang anak yang bisa terbang kelling dunia, bercanda dengan teman sebaya, menyulap apa saja yang diinginkan menjadi permainan menyenangkan. Dia sering menceritakan kisah itu pada adiknya, kata adiknya cerita ini sangat menarik kenapa tidak dibuat novel saja?

Respon adiknya membuat si ibu muda terinspirasi menulis, ia memulainya di tengah-tengah kesibukan mencari nafkah di kota yang keras akan persaingan hidup. Singkat cerita terbitlah sebuah novel berjudul Harry Potter and philosoher’s stone. Ibu muda itu adalah JK Rowling penulis novel fenomenal yang di santap jutaan orang di penjuru dunia. Mana mungin ia bisa berimajinasi dan menulis sekeren itu jika tak pernah membaca. Rowling saja yang harus kerja banting tulang sana-sini bahkan keluar dari kota kelahirannya mencari nafkah masih sempat membaca dan menulis. Padahal kita tahu menulis novel tidaklah membutuhkan waktu yang singkat, tapi 16 tahun lalu wanita miskin dari London telah membuktikannya. Kesibukan bukan dalih berhenti membaca.

Kualitas kita lima sampai sepuluh tahun mendatang ditentukan oleh apa yang kita baca hari ini. Membaca bukan sekedar hoby semata tapi membaca adalah orator yang mampu merubah mindset dan jalan hidup kita.

Download from facebook


Masyarakat Jepang ternyata sangat terkenal dengan kedisiplinannya memanfaatkan waktu. Bagi orang Jepang waktu terlalu berharga untuk di buang tanpa ada hasil. Saya membayangkan bagaimana bingungnya orang Jepang umpama mereka tau bagaimana masyarakat kita sehari-hari. Pasti mereka bisa pingsan keheranan. Bagi mereka waktu itu seperti emas. Maaf bukannya sok tahu, coba lihat bagaiamana kebiasaan mereka! Fenomena yang tak akan dijumpai di Indonesia. Antrean, bus, taman kota maupun tempat umum lain ramai dengan orang membaca. Tidak ada waktu luang yang terlewatkan tanpa membaca, di tengah hingar-bingar dan sibuknya aktifitas, mereka masih saja sempatkan diri membaca.

Sehingga tak hera negara yang memiliki luas wilayah tak lebih dari pulau Sumatra, yang tak memiliki kekayaa alam berarti, bahkan juga telah diluluhlantakan bom atom di dua kota Hiroshima dan Nagasaki, hingga saat ini masih tersimpan zat radio aktifnya namun mampu menjadi salah satu negara terkaya di Asia.

Jadi tidak ada alasan bagi kita semua menihilkan hari tanpa membaca. Mereka bisa kenapa kita tidak, kalau bisa dikerjakan sekarang kenapa harus besok.

“Apa yang kau lihat adalah apa yang engkau bisa menggapainya” Ahmad Rifai Rifan

Daftar Pustaka

Ngainun Naim, The power of Reading, Yogyakarta: Aura Pustaka, 2013

Ahmad Rifai Rifan, Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati, Jakarta: PT. Elex Media Komputindo Kompas – Gramedia, 2016

Ahmad Rifai Rifan, Man Shabara Zhafira, Jakarta: PT. Elex Media Komputindo Kompas – Gramedia, 2016

Dr. Saifur Rohman, Follow Your Fashion: Be A Writer, Jakarta: PT. Gramedia, 2014