Jangan Mau Dikatakan Pemalas
"Namun, angka yang sedemikian menggembirakan
ternyata tidak seiring dengan hasil survei UNESCO tentang minat membaca
masyarakat Indonesia. Survei tersebut menunjukkan bahwa minat membaca
masyarakat Indonesia sangat rendah. Tahun 2006, minat membaca masyarakat
indonesia berada pada posisi paling rendah di kawasan Asia. Sementara
International Education Achievement mencatat kemampuan membaca siswa Indonesia
berada pada posisi paling rendah di kawasan ASEAN. Kesimpulan itu diambil dari
penelitian atas 39 negara. Indonesia menempati urutan ke-28. Dua hal itu antara
lain yang menyebabkan united Nations Development Program (UNDP) menempatkan
kita pada urutan rendah dalam hal pembangunan sumber daya manusia. (Ngainun Naim:2013)
Berdasarkan
hasil survei dunia, Indonesia termasuk negara dengan minat membaca terendah.
Boleh dikatakan orang indonesia pemalas, bukan sekedar pemalas tapi kerak
pemalas. Namun semudah itukah kita percaya? Serendah itukah sumber daya manusia
penghuni bumi pertiwi ini.
Mendengar berita itu memancing rasa penasaran bahkan merangsang seribu
penolakan dari bathin terdalam saya. Masa iya? Indonesia yang memiliki ragam
suku, budaya, bahasa, dan etnis ini dikatakan memiliki minat membaca terendah.
Lantas dari mana UNESCO mengambil penilaian tersebut?
![]() |
| Picture by: Rizqon Ar-ramadhan Al-Muharrir |
Kawan,
saya benar-benar tidak sepakat dengan hasil survei UNESCO. Coba kita cermati
salah satu kriteria penilaian seberapa
sering orang berkunjung ke perpustakaan. Memang kita akui tidak banyak
masyarakat yang berkunjung ke perpustakaan, menilik data dari Jakart Open
Data pengunjung perpustakaan
umum daerah Jakarta tidak sampai 500 ribu per tahun, padahal penduduk Ibu Kota
mencapai mencapai angka 10 juta jiwa. Jumlah itu tentu sangat jauh dibandingkan
Jepang yang memegang predikat minat membaca terbaik dunia mencapai 26 juta
pengunjung pada tahun 2017, mampu mengalahkan Jerman yang di kenal sebagai
negara dengan para pemikir keras lebih-lebih pada era Bj. Habibie.
Tentu
saja penilaian itu tidak bisa menjadi tolak ukur menjudge orang Indonesia malas
membaca. Jika kita teliti lebih dalam orang Indonesia memiliki kultur membaca
yang unik. Jalan-jalan ke perpustakaan memang bukan budaya kita tapi berkunjung
ke toko buku lebih digemari warga +62.
Terbukti,
ketika adanya pameran ataupun bazar buku peminatnya cukup ramai meski tak
seramai toko buku di Jepang. Ternyata keunikan bangsa Indonesia mencuat melalui
media elektronik.
Hasil
riset menggunakan data internal platform
e-commerce global dari Picodi.com menganalisis toko buku menjadi
sumber utama penyebaran buku di Indonesia dengan prosentase penjualan 47%,
disusul perpustakaan 31%, dari teman 12%, sedang 10% mengaku tidak membaca
buku. Dan lebih spesifiknya penjualan di toko buku masih sangat mendominasi
dengan angka 73%. Dibawahnya responden mendapat buku 55% secara online, 31%
unduh gratis, 27% e-book online, 6% subskripsi berbayar dan 2% audio book
online. Ditambah lagi menurut informasi dari Republika.co.id,
perpustakaan nasional meluncurkan program peminjaman buku secara daring
tercatat memiliki peminjaman satu buku elektronik mencapai 500 antrian.
Hasil
ini menjadi patokan tidak serendah itu minat baca orang Indonesia. Saya juga
mengutip dari seorang inisiator pustaka bergerak Nirwan Ahmad Arsuka.
"Kawan-kawan
di pustaka bergerak selalu melihat minat baca masyarakat tinggi sekali. Begitu
di sodorkan buku yang sesuai mereka sangat antusias". Kata Nirwan.
Nirwan
dan pustaka bergerak menyebarkan buku untuk anak-anak dengan metode jemput
bola, membawa buku pada mereka bukan menunggu mereka mencari buku. Salah satu
faktor yang membuat orang kurang tertarik membaca ke perpustakaan karena buku
yang didistribusikan kementrian pendidikan sering kali bersifat kering, garing,
kurang gereget bahkan membosankan. Sesekali coba baca buku-buku mata pelajaran
terbitan pemerintah yang biasa kita temui di sekolah, buku-buku itu terasa
sangat hambar dan tidak bisa menimbulkan rasa penasaran pembaca sehingga dalam
benak kita tercetus mindset membaca buku itu membosankan. Hal semacam ini
menjadikan kita tidak tertarik membaca deretan kata demi kata yang tersusun
rapi tersebut, kalaupun ada yang ke perpustakaan paling hanya mencari referensi
tugas sekolah atau kuliah.
Saya
setuju dengan tulisan seorang motivator, writerpreneur dan enterpreneur Ahmad
Rifai Rifan dalam bukunya 13 Rahasia Doa
Lulus Ujian mengajarkan beberapa tips semangat belajar salah satunya dengan
membaca buku-buku yang bisa meransang rasa penasaran sehingga kita akan terus
membaca, membaca dan membaca sampai rasa penasaran terbayar.
"Ingat
kawan, tujuan utama kita belajar untuk mengetahui hal-hal baru". Ahmad
Rifai Rifan.
Bagaimana
kita bisa semangat ke perpustakaan kalau isinya monoton dan begitu-begitu saja,
tentu membeli buku menjadi pilihan alternatif.
Sekali
lagi hasil survei dunia tidak bisa jadi patokan orang Indonesia pemalas, yang
lebih tahu kondisi internal negara kita adalah diri kita sendiri. Ahmad Nirwan
Arsuka terang-terangan menolak cap orang Indonesia pemalas. Menurutnya UNESCO,
PISA ataupun CCSU menimbulkan kesimpulan yang salah terkait minat baca orang
Indonesia.
Referensi
Ngainun Naim, The power of Reading, Yogyakarta: Aura Pustaka, 2013
Ahmad Rifai Rifan, 13 Rahasia Doa Lulus Ujian, Jakarta: PT. Elex Media Komputindo – Gramedia, 2016.
Aditya Jaya Iswara, Penjualan Buku Di Indonesia dalam Angka, www.goodnewsfromindonesia.id, edisi 08 Juni 2019.
Riza Miftah Muharam, Minat Baca Orang Indonesia Rendah, Masa Sih?, https://blogruangguru.com, edisi 7 mei 2019.
Detik News, Benarkan Minat
Baca Orang Indonesia Serendah Ini?, https://m.detik.com, edisi 05 Januari 2019

