Sebuah Seni Untuk Meraih Kesuksesan
“Membaca memiliki manfaat untuk merubah paradigma. Misalnya selama ini anda berfikir sukses itu berkaitan dengan takdir Tuhan. Maka, anda kemudian memahami segala hal dalam paradigma semacam ini. Apakah anda menjadi orang sukses atau tidak, kuncinya bukan terletak pada anda tetapi kehendak Tuhan.” (Ngainun Naim)
Bani Abbasiyah berdiri pada tahun 750 M mengabdi selama 505 tahun diperintah oleh 37 khalifah, kerajaan Islam dengan masa pemerintahan paling panjang dalam sejarah peradaban Islam. Kemajuannya banyak dibuktikan dengan pesatnya pembangunan ke seluruh wilayah kekuasaan bahkan mencapai eropa lebih-lebih di pusat pemerintahan. Bukti lain ditunjukan melalui pendidikan, dibangunnya Baitul Hikmah (perpustakaan), Madrasah, Universitas, lembaga pendidikan kedokteran dan farmasi, bahkan pada periode awal pemerintahan sudah tersedia 800 dokter di Kota Bagdhad. Kemajuan sosial dibuktikan dengan banyaknya rumah sakit serta baitul mal yang tersebar di seluruh ibu kota pemerintahan. Bukan hanya itu orang-orang dari seluruh dunia juga berbondong-bondong menuntut ilmu di pusat-pusat peradaban Abbasiyah.
Membaca cuplikan sejarah di atas mengundang berbagai pertanyaan “Apa rahasia sukses mereka? Mengapa mereka mampu meraih kejayaan sedemikian pesat?” Tidak lain karena mereka para pembaca yang rakus. Para khalifah memiliki kecintaan tinggi terhadap ilmu pengetahuan, mereka menyediakan sarana pembelajaran dengan membangun perpustakaan di setiap daerah serta membentuk tim penerjemah buku-buku latin dan teks kuno untuk dipelajari dan disebar luaskan. Para ulama, guru, pelajar, dan semua orang yang bergelut dengan ilmu diberi keistimewaan, mereka difasilitasi tempat tinggal bahkan dibiayai selama mengenyam pendidikan.
Puncak kejayaan Bani Abbasiyah berlangsung selama kepmimpinan Harun Ar-Rasyid khalifah ke-5. Ia berhasil menjadi pemimpin terbaik Abbasiyah, sehingga masa kepemimpinannya dikatakan masa keemasan Bani Abbasiyah. Semua prestasi yang diraihnya tidak lain karena ia sangat mencinai ilmu, Harun Ar-Rasyid membangun peradaban ilmu pengetahuan dengan menyediakan berbagai fasilitas pendidikan bagi masyarakat luas, mahasiswa, ulama, dan para pecinta ilmu berupa kuttab, madrasah, dan perguruan tinggi seperti Universitas Nizamiyah, Universitas Naisabur dan sebagainya, penerjemahan kitab-kitab kuno juga dimulai pada masanya.
![]() |
Ini membuktikan betapa hebatnya efek membaca (belajar) bagi kemajuan suatu negeri. Membaca mampu merubah paradigma seseorang dalam menilai kehidupan, berani melangkah lebih luas, dan memandang hidup melalui berbagai persfektif. Jika ingin negara kita maju mulailah memprioritaskan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai program utama pemerintah lebih-lebih bagi anak-anak dan remaja, karena kemajuan negara ditentukan oleh pemikiran brilian mereka.
Sudah terlalu banyak bukti kalau efek membaca memberikan kontribusi besar bagi perkembangan suatu negara. Jepang menjadi contoh di era modern dan Bani Abbasiyah sebagai bukti sejarah masa lalu yang layak ditiru.
