ADA BAHAGIA DIBALIK GALAU
Siapa
orang di dunia ini yang tidak pernah galau? Saya, Anda, mereka dan kita semua pasti pernah
dilanda galau. Bahkan manusia pertama, Nabi Adam As. pernah dilanda galau selama
40 tahun gara-gara diusir dari surga dan terpisah dari sang kekasih, Siti Hawa.
Bukan hanya itu, makhluk terbaik di alam
semesta, Nabi Muhammad Rasulullah juga pernah dilanda galau karena ditinggal
istrinya, Khadijah. Belum saja jenazah istri Nabi dimakamkan malah datang kabar
tentang pamannya tercinta, Abu Thalib yang tengah menghadapi sakratul maut. Dalam
waktu yang hampir bersamaan Rasulullah ditinggal dua orang yang paling dicinta, yang selalu melindungi jalannya dakwah. Khadijah melindungi
dakwah dengan segenap harta kekayaannya. Abu Thalib melindungi dengan seluruh
tenaga, kekuatan, dan kedudukannya di hadapan orang Quraisy.
Pada masa-masa galau berat yang Rasulullah
rasakan, Allah menghiburnya dengan membawa sang Nabi rekreasi ke langit untuk
berjumpa dengan para Nabi terdahulu, melihat isi surga dan neraka, dan bagian
paling inti yaitu bertemu dengan sang pencipta, Allah swt.
Kalau manusia pertama dan makhluk yang paling
mulia saja pernah galau apalagi kita manusia biasa, cucu Nabi saja bukan. Namun
bukan berarti rasa galau akan menjadikan kita terus murung dan bersedih.
Jadikan galau sebagai batu loncatan untuk maju dan membangun semangat baru.
Yakinlah, di setiap kesedihan pasti ada kebahagiaan. Dan di setiap penderitaan
pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya.
Saya teringat dengan seorang sahabat di pesantren, sebut saja namanya Ali. Ali adalah santri kelas akhir yang akan lulus beberapa bulan lagi, dan sebentar lagi Ali ingin melamar seorang santriwati cantik bernama Lia. Keduanya berencana merayakan pernikahan selepas wisuda nanti, namun apalah daya Tuhan berkata lain, mereka tidak ditakdirkan bersama. Lia si gadis cantik jelita dijodohkan orang tuanya dengan lelaki lain yang notabene seorang pengusaha kaya-raya.
![]() |
| Download from instagram: wkz.haris.m |
Tak lama kemudian Lia menikah dengan lelaki
itu. Dalam kondisi terpuruknya Seorang Ustadz menyarankan Ali menikah dengan
salah satu santriwati cerdas dan cantik yang bernama Zahra, dan katanya dia sudah
siap dilamar. Tanpa berpikir panjang Ali menerima saran gurunya.
Singkat cerita Ali dan Zahra dikaruniai buah
hati yang tampan dan lucu. Di sisi lain, Lia sampai saat ini belum juga
dikaruniai buah hati, karena ia mengalami masalah di rahim sejak muda, tidak
ada yang tahu kecuali setelah ia menikah.
Itulah hikmah yang timbul di balik galaunya
Ali, ada skenario Tuhan yang begitu indah. Ada orang bijak mengatakan “Tuhan
selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan hanya apa yang kita inginkan”. Intinya
Tuhan tahu apa yang terbaik bagi hambanya.
“Sering kali kita membenci sesuatu padahal itu amat baik bagi kita, dan sering kali kita menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagi kita. Allah maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”. (Q.S Al-Baqarah: 216)

Kembangkan terus karyamu kawan
BalasHapusSiiap...
Hapus